Hai hai...
Akhirnya ngepost lagi, hehe
Nah, kali ini aku bakalan cerita mengenai salah
satu materi psikologi pendidikan, yaitu Intelegensi. Mungkin kita sering
bingung ya.. intelegensi itu apa dan bagaimana sih, nah, sayangnya paradigma di
masyarakat sering kali menganggap nahwa seseorang akan di anggap pintar jika
mampu mengerjakan soal matematika atau mamapu berbahasa inggris. Jadi....
sebenarnya intelegensi itu gak sebatas matematika dan bahasa inggris.
Intelegensi juga ada pembagian nya. Mulai penasaran? Kita bahas dari awal ya.
Beberapa pakar mendeskripsikan intelegensi
sebagai kemampuan memecahkan masalah atau problem solving. Sementara
beberapa pakar yang lain mendeskripsikan intelegensi sebagai kemampuan
beradaptasi dan belajar melalui pengalaman kehidupan sehati-hari. Jadi bisa
kita simpulkan secara sederhana bahwa intelegensi adalah keahlian memecahkan
masalah dan kemammpuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman
hidup sehari-hari.
Pada 1904 Menteri Pendidikan perancis meminta
psikolog Alferd Binet untuk menyusun metode guna mengidentifikasi anak-anak
yang tidak mampu belajar di sekolah. Maka lahirlah tes Binet. Nah, Binet
mengembangkan konsep Mental Age(MA) atau usia mental, yakni level
perkembangan mental indidvidu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Lalu pad
a 1912 Wiliam Stern memerkenalkan konsep Intelligence quotient(IQ),
yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age-CA),
dikali 100. Maka rumusnya, IQ=MA/CA X 100.
Tes Binet direvisi berkali-kali untuk
disesuaikan dengan kemajuan dalam pemahaman intelegensi dan tes intelegensi.
Selain tes Binet, ada juga tes lainnya yang
bernama Skala Weschler. Tes ini mencakup Wechsler Preschool and Primary
Scale of Intelelligence-Revised (WPPSI-R) untuk menguji anak usia 4 sampai
6 ½ tahun. Wechsler Intelligence Scale for Childern-Revised (WISC-R)
untuk anak remaja dari usia 6 hingga 16 tahun, dan Wechsler Adult
Intelligence Scale-Revised (WAIS-R).
Selain itu, ada juga kontroversi dan isu dalam
Intelegensi.
·
Sifat dan Asuhan(nature-nurture) adalah debat tentang apakah perkembangan
seseorang terutama dipengaruhi oleh sifat alamiah ataukah oleh pengasuhan.
Pendukung ‘sifat’ mengatakan bahwa pengaruh terpenting pada perkembangan anak
adalah wairsan biologis. Pendukung ‘pengasuhan’
mengatakan bahwa pengalaman lingkunganlah yang paling penting
pengaruhnya.
·
Apakah Orang Punya Intelegensi Umum? Ingat kembali tentang faktotr intelegensi umum
yang disebut g. Mengingat banyak orang yang tertarik pada multiple
intelligence ini, tampaknya tidak bijak untuk memikirlkan tentang
kemungkinan anaka punya intelegensi umum. Akan tetapi, sejumlah pakar
mengatakan bahwa individu bukan hanya pun ya intelegensi umum, tetapi
intelegensi ini juga bisa diaplikasikan untuk memprediksi kesuksesan sekolah
dan pekerjaan (Brody, 2000). Misalnya, berkolerasi dengan prestsi akademik dan
secara moderat berkolerasi dengan kinerja kerja (Lubinski, 2000). Individu
dengan skor tinggi pada tes yang didesain untuk intelegensi umum cendrung
mendapatkan pekerjaan prestisius yang bergaji besar (Wagner, 1997). Akan tetap,
tes IQ umum hanya memprediksi seperempat dari variasi dalam kesuksesan kerja,
dengan sebagian besar variasi dinisbahkan pada faktor lain seperti motivasi dan
pendidikan (Wagner & Stenberg, 1986). Lebih jauh, korelasi antara IQ dan
prestasi akan berkurang jika orang makin lama dalam bekerja, mungkin karena mereka semakin banyak mendapatkan
pengalaman kerja dan karenanya kinerjanya jadi lebih baik (Hunt, 1995).
·
Etnis dan Kultur perdebatan ini mempertanyakan apakah ada perbedaan
etnis, kultur dan budaya akan memengaruhi intelegensi sesorang?
·
Tes yang Fair Secara Kultural (culture-fair testi) adalah tes yang diusahakan bebas dari
bias kultural.
·
Pengelompokan dan Penelusuran Kemampuan isu ini membahas apakah ada faedahnya untuk
menggunakan skor tes kecerdasan murid guna menempatkan mereka dalam kelompok
kemampuan
Macam-macam intelegensi menurut Gardner
Gardner berasumsi bahwa kecerdasan terbagi
dalam 8 mcam, yaitu
·
kecerdasan linguistic-verbal dan
·
kecerdasan logiko-matematik yang sudah dikenal
sebelumnya, ia menambahkan dengan komponen kecerdasan lainnya yaitu
·
(3) kecerdasan spasial-visual,
·
kecerdasan ritmik-musik,
·
kecerdasan kinestetik,
·
kecerdasan interpersonal,
·
kecerdasan intrapersonal. Sekarang tujuh
kecerdasan tersebut di atas sudah bertambah lagi dengan satu komponen
kecerdasan yang lain, yaitu
·
kecerdasan naturalis
sekian untuk postingan kali ini, ^^ berhubung
aku nya juga masih belajar, so.. CMIIW, please Corect Me If Im Wrong.
^^
(sumber: Santrok, J.W. Psikologi Pendidikan. Edisi kedua. Jakarta:
PRENADAMEDIA GROUP )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar